Yogyakarta, 12 Januari 2026 — Mahasiswa Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Sekolah Pascasarjana menyelenggarakan Webinar NEXUS (Network & Environmental eXchange for Up-skilling in Sustainability) sebagai ruang pembelajaran dan kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan keberlanjutan global. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, praktisi, sektor swasta, pemerintah, komunitas, serta generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.

Webinar NEXUS hadir sebagai respon atas meningkatnya urgensi isu perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketimpangan sosial yang secara langsung berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui forum ini, peserta diajak untuk melihat keberlanjutan secara utuh, tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari dimensi sosial, ekonomi, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) yang saling terhubung.
Mengusung semangat up-skilling, NEXUS menekankan pentingnya penguatan kapasitas dan keterampilan baru (green skills) yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan pembangunan saat ini. Keterampilan seperti manajemen karbon, analisis risiko iklim, inovasi ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat menjadi isu utama yang dibahas untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, sejalan dengan SDGs, khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Rangkaian webinar menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang strategis. Prof. Dr. Lutfi Muta’ali, S.Si., M.T. dari Universitas Gadjah Mada menekankan pentingnya transformasi Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari sekadar kepatuhan regulasi menuju Corporate Social Innovation (CSI) berbasis geospasial. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan shared value sekaligus meningkatkan resiliensi korporat melalui integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola secara berbasis data dan spasial.
Sementara itu, apt. Hidayat Setiadji, M.Si. dari PT Bio Farma memaparkan strategi integrasi keberlanjutan perusahaan dengan menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi inti bisnis. Praktik yang disampaikan menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan tidak hanya berdampak pada perlindungan lingkungan dan masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan serta nilai perusahaan dalam jangka panjang, sejalan dengan upaya pencapaian SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Pada sesi selanjutnya, Ir. Saprian, S.T., M.Sc., M.T., IPM., ASEAN Eng., Founder dan CEO Environesia Group, menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan yang strategis serta urgensi pengembangan green skills sebagai bekal utama menghadapi krisis iklim. Ia menegaskan bahwa lingkungan bukan lagi sekadar isu kepatuhan, melainkan faktor penentu keberlanjutan bisnis dan masa depan tenaga kerja di era transisi menuju ekonomi hijau.
Melalui diskusi yang interaktif dan berbasis studi kasus, Webinar NEXUS diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta, tetapi juga mendorong kolaborasi nyata lintas sektor dalam mendukung pencapaian SDGs. Lebih dari sekadar webinar, NEXUS dirancang sebagai awal dari jejaring keberlanjutan yang berkelanjutan, yang terus tumbuh dan berkontribusi dalam menciptakan solusi inovatif bagi tantangan lingkungan dan sosial di masa depan.