Mengapa MPL

KEUNGGULAN MAGISTER PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Menghadapi berbagai permasalahan sumberdaya alam dan kejadian bencana alam dalam lingkungan yang sangat kompleks selama ini, telah menjadi isu global yang menarik perhatian dan bahkan menjadi tantangan bagi para ahli lingkungan, profesionalisme, pemerhati lingkungan, pemerintah, dan seluruh masyarakat Indonesia khususnya maupun dunia pada umumnya. Berbagai permasalahan lingkungan yang telah terjadi, telah membawa konsekuensi yang lebih cenderung bersifat merugikan (negatif), yang berupa degradasi lingkungan dalam arti luas. Kenyataan inilah yang kemudian menjadi akar permasalahan dan dasar pijakan utama untuk menentukan kebijakan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Oleh karena itu, kemudian ditetapkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan yang kemudian disempurnakan menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH), sebagai amanah bagi seluruh lapisan masyarakat Bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan berbagai rencana yang dirumuskan dan tindakan yang dilaksanakan dalam setiap gerak laju pembangunan pada masa-masa yang akan datang.

Permasalahan lingkungan dapat muncul dan terjadi setiap saat yang diakibatkan oleh karena aktivitas manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam telah melampaui daya dukung lingkungannya. Akibat tidak mengenal dan tidak peduli dengan karakteristik lingkungan dengan baik, maka manusia cenderung memanfaatkan sumberdaya alam yang ada dalam lingkungan menurut takaran atau kemauannya sendiri-sendiri. Kemauan yang dimaksud disini adalah menuju pemenuhan kebutuhan ekonomi, tanpa lebih jauh mempertimbangkan kelestarian fungsinya sebagai suatu ekosistem. Ekosistem merupakan tempat ataupun ruang bagi rumah tangga makhluk hidup, yang di dalamnya terjadi saling berinteraksi dan bergantung antar komponen penyusunnya, sehingga apabila salah satu komponen dalam ekosistem tersebut terganggu, maka komponen yang lain juga akan terganggu. Terganggunya komponen-komponen penyusun ekosistem tersebut akan menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan. Hal ini jelas akan mempengaruhi keberlangsungan ekosistem itu secara lestari. Akibatnya muncul gejala-gejala atau fenomena alam yang cenderung menunjukkan kerusakan komponen-komponen dalam ekosistem tersebut, yang dapat dikatakan sebagai masalah lingkungan.

Selama ini, negara Indonesia juga dihadapkan pada masalah dampak pembangunan, yaitu semakin langkanya sumberdaya alam tertentu, menurunnya kualitas lingkungan hidup sebagai akibat eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya yang tak terkendali, pertumbuhan industri dan praktek bisnis yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan bio-geofisik, seperti: tanah, air, vegetasi (hutan), dan udara. Kerusakan lingkungan hidup tentu akan berpengaruh terhadap kemerosotan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia yang menjadi sasaran utama pembangunan nasional. Dengan demikian sumberdaya manusia profesional menjadi agen ataupun kunci utama dalam keberhasilan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Mencermati dan memahami isi dari UUPPLH Nomor 32 tahun 2009, maka setiap Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota seyogyanya memiliki ahli-ahli pengelolaan lingkungan, sebagai sumberdaya manusia profesional dalam setiap upaya perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Sumberdaya manusia yang profesional dalam pengelolaan lingkungan (environmental management) sangatlah diperlukan untuk menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan bebas. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang terencana dengan baik melalui eko-efisiensi dapat meningkatkan keuntungan bagi pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas, yaitu dapat meningkatkan efesiensi ekonomi dengan tetap menjaga keseimbangan fungsi ekologi dan berbasis masyarakat (economic and ecologic balance and based on community). Melalui tindakan eko-efisiensi, dalam waktu yang bersamaan dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi, dan sekaligus dapat menekan dampak negatif yang berupa penurunan kualitas lingkungan, sehingga tetap terjaga nilai-nilai ekologis dalam lingkungan.

Atas dasar pertimbangan tersebut, maka untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan diperlukan ahli-ahli pengelola lingkungan yang profesional. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Program Magister Pengelolaan Lingkungan (MPL), Sekolah Pascasarjana UGM yang merupakan salah satu institusi Perguruan Tinggi berderajat S-2 siap untuk menggodok dan mencetak Ahli-ahli Lingkungan Profesional di masa sekarang dan yang akan datang. Untuk mendukung profesionalisme dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, maka diperlukan adanya informasi secara terus menerus dan lengkap mengenai potensi, lokasi, sebaran, waktu, dan pendayagunaan segenap sumberdaya dalam lingkungan secara optimal dan terintegrasi, yang disajikan melalui teknik Sistem Informasi Geografis (SIG). Untuk itu, di samping kemampuan manajerial dalam perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, maka setiap mahasiswa MPL UGM akan dibekali keahlian (skill) dalam penyusunan basisdata dan sistem informasi lingkungan.

Leave a comment